Balai Veteriner Jayapura Laksanakan Surveilans Anthrax dan Brucellosis di Kabupaten Manokwari Manokwari Selatan
Jayapura— Balai Veteriner (Bvet) Jayapura melaksanakan kegiatan surveilans penyakit hewan menular strategis (PHMS) Anthrax dan Brucellosis di Kabupaten Manokwari dan Kabupaten Manokwari Selatan pada tanggal 4–8 Agustus 2025. Surveilans ini dilakukan sebagai langkah deteksi dini untuk mencegah penyebaran penyakit zoonotik yang berpotensi mengancam kesehatan hewan, kesehatan masyarakat, serta ketahanan pangan di wilayah Papua Barat.
Tim yang dipimpin oleh drh. Daniel Sebastian Simangunsong bersama Christian Sutanto Hutagalung, A.Md, bekerja sama dengan Dinas Pertanian Kabupaten Manokwari serta Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Manokwari Selatan. Kegiatan ini mendapat dukungan penuh dari pemerintah daerah mengingat pentingnya pengendalian penyakit strategis di wilayah dengan populasi ternak yang cukup besar dan mobilitas hewan yang tinggi.
Dalam pelaksanaannya, tim melakukan koordinasi teknis dengan dinas terkait untuk menentukan lokasi pengambilan sampel. Surveilans dilakukan di Distrik Prafi, Distrik Masni (Kabupaten Manokwari), serta Distrik Oransbari (Kabupaten Manokwari Selatan). Dari berbagai desa seperti Ingkwoisi, Prafi Mulia, Warmare, Wasegi Indah, Macuan, Prafi Barat, Sudimulyo, Sindang Jaya, dan Margomulyo, tim berhasil mengoleksi lebih dari 100 sampel darah untuk pengujian Brucella maupun Anthrax.
Selain pengambilan sampel, tim juga melakukan wawancara dengan peternak mengenai kesehatan ternak, kasus abortus, dan pola pemeliharaan. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa sebagian besar sapi dipelihara secara ekstensif, digembalakan di padang rumput, dengan fasilitas kandang yang masih sederhana. Tim juga menemukan laporan kasus keguguran pada ternak, yang menjadi salah satu indikasi penting dalam pengujian laboratorium.
Kendala di lapangan seperti cuaca hujan deras, akses jalan yang sulit, serta penanganan ternak yang agresif sempat memperlambat proses. Namun, berkat kerja sama yang baik antara petugas, penyuluh lapangan, dan para peternak, seluruh kegiatan dapat diselesaikan sesuai target. Sampel yang diperoleh diproses sesuai prosedur standar biosekuriti dan akan diperiksa di laboratorium Balai Veteriner Jayapura.
Melalui surveilans ini, Balai Veteriner Jayapura tidak hanya mengumpulkan data epidemiologis, tetapi juga meningkatkan kesadaran peternak mengenai bahaya Anthrax dan Brucellosis, pentingnya biosekuriti, serta pelaporan dini jika ditemukan kasus mencurigakan.
Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi dasar perumusan kebijakan pencegahan dan pengendalian penyakit hewan strategis, serta memperkuat ketahanan peternakan dan kesehatan masyarakat di Papua Barat.