Please ensure Javascript is enabled for purposes of Kementerian Pertanian RI
1
Chatbot
Selamat datang, silahkan tanyakan sesuatu
Logo

Kementan Perkuat Tembok Biosekuriti Papua, Salurkan Disinfektan untuk Keerom

24/07/2025 10:01:00 Administrator 544

Keerom–Dalam mendukung pencegahan serta pengendalian Penyakit Hewan Menular Strategis (PHMS), Kementerian Pertanian menyerahkan bantuan disinfektan kepada Dinas Pertanian Kabupaten Keerom, Provinsi Papua. Penyaluran disinfektan tersebut dilaksanakan oleh Balai Veteriner Jayapura, unit pelaksana teknis milik Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) pada Rabu (23/7/2025).

Langkah konkret yang ditempuh Kementan ini ditujukan untuk memperkuat penerapan biosekuriti, terutama di Kabupaten Keerom.  Kepala Balai Veteriner, Tri Juwianto juga menjelaskan bantuan ini berfungsi untuk meminimalkan risiko penyebaran penyakit hewan yang berdampak signifikan terhadap sektor peternakan.

“Bantuan ini merupakan wujud kehadiran Ditjen PKH di lapangan, sebagai bentuk dukungan nyata dalam memperkuat langkah-langkah pencegahan PHMS, khususnya di wilayah Kabupaten Keerom,” jelas Tri Juwianto.

Bantuan diterima oleh perwakilan Dinas Pertanian Kabupaten Keerom untuk selanjutnya didistribusikan ke titik-titik strategis. Dukungan dari Kementan kepada Dinas setempat merupakan bentuk sinergi antar instansi dalam menjaga kesehatan hewan sekaligus menjamin keamanan pangan asal ternak.

Kepala Bidang Dinas Pertanian Kab. Keerom menyambut baik dan mengapresiasi dukungan tersebut. “Kami sangat terbantu dengan adanya bantuan desinfektan ini. Nantinya akan kami distribusikan untuk mendukung kegiatan disinfeksi rutin di titik-titik strategis,” terang Wagino.

PHMS merupakan ancaman serius bagi berlangsungnya sektor peternakan yang akan terus berdampak terhadap ekonomi dan kesehatan masyarakat, serta ketahanan pangan. Sehingga diperlukan strategi mitigasi dan pencegahan yang salah satunya dengan pelaksanaan disinfeksi rutin di lokasi peternakan, pasar hewan, hingga pos lalu lintas ternak.

Melalui pendekatan kolaboratif lintas instansi ini, diharapkan upaya pencegahan dapat berjalan lebih menyeluruh dan berkelanjutan. Langkah ini sekaligus menjadi bentuk manifestasi sistem kesehatan hewan yang tangguh dan responsif di tingkat daerah.